Pages

Kristenisasi di Nusakambangan

CILACAP (Arrahmah.com) – Pasca menzhalimi para napi “teroris”  di LP Batu Nusakambangan, sekarang ini sedang berlangsung upaya kristenisasi di sana.

Pada penghujung tahun 2013 lalu seluruh barang para ikhwan dibakar oleh aparat gabungan yang terdiri dari polisi, TNI dan sipir LP. Hingga hari ini keluarga para napi LP Batu belum bisa berkunjung ke sana. Para napi masih dalam proses isolasi dari pihak sipir LP Batu. Tak jelas kapan proses isolasi ini akan dibuka. Yang pasti, barang-barang kiriman dari keluarga masih menumpuk di Cilacap.

Di tengah ketidakjelasan tersebut, muncul berita menyakitkan, terutama bagi narapidana yang  beragama Islam. Seluruh narapidana dikumpulkan dalam acara pembagian alat mandi Sabtu pagi (18/01/2014). “Semua narapidana, tidak hanya ikhwan yang tersangkut kasus ‘terorisme’,” ujar ex napi LP Batu Abdullah, seperti dilansir dari kiblat.net Sabtu (19/1/2014).

 ”Alangkah kagetnya ikhwan-ikhwan, ketika mengetahui bantuan tersebut dari gereja. Acara tersebut digelar dengan tema: Bantuan Sosial Peduli Kasih dari Pelayanan Kasih Bethesda,” tambahnya.
 

Sitinjak
Selanjutnya, tanpa dikomando, secara serentak para ikhwan membawa kembali “bantuan” tersebut dan melemparkannya di hadapan Kalapas Liberty Sitinjak. “Para ikhwan melakukan hal itu karena merasa izzah mereka dicampakkan,” urainya.

Abdullah mengabarkan, seluruh petugas di LP Batu hanya diam saja  atas aksi pembagian paket dari gereja itu, seolah membiarkan adanya misi kristenisasi yang terselubung itu. Kejadian ini menambah panjang daftar masalah yang ditimbulkan oleh kebijakan Kalapas yang beragama Kristen itu. Setelah membakar habis semua barang-barang para narapidana—bahkan kesaksian seorang narapidana menyebutkan terjadi juga pembakaran Al-Qur’an, melarang keluarganya menjenguk, kini digelar misi kristenisasi berkedok bantuan sosial.


Yang lebih parah lagi, imbuh Abdullah, kini sedang dibangun gereja di dalam LP tersebut. Sebagai catatan, Kalapas sebelum ini tidak mengijinkan pembangunan gereja karena lahan yang tidak ada. Namun oleh Sitinjak, kini ruang olahraga bagi narapidana disulap menjadi gereja. (azm/arrahmah.com)